Kebudayaan Indonesia, Kebudayaan Nusantara - Nurul Firmansyah - Lensapedia
BANNER 728X90

Kamis, 15 Juni 2017

Kebudayaan Indonesia, Kebudayaan Nusantara - Nurul Firmansyah

50885.jpg
http://www.qureta.com/uploads/post/50885.jpg

Kebudayaan Indonesia bukanlah sesuatu yang terberi (given). Kebudayaan Indonesia ibarat bangunan bersama antar budaya suku-suku bangsa nusantara, mulai dari Melayu, Jawa, Bugis dan lainnya. Bangunan kebudayaan Indonesia hadir sejak lama, ketika interaksi antar budaya suku – suku bangsa Nusantara terjalin dalam rentang historis pra-kolonial.
Kebudayaan Indonesia seperti mozaik sosial, ekonomi dan politik bangsa-bangsa kepulauan Nusantara.
Interaksi antar budaya-budaya tersebut menampilkan rona kebudayaan Nusantara. Sejarah menunjukan bahwa interaksi antar budaya suku-suku bangsa Nusantara dilaksanakan melalui media laut dengan pelayaran dan perdagangan yang telah menghubungkan lebih kurang 17.000 pulau-pulau. Hal ini menunjukan bahwa Maritim adalah nadi kebudayaan nusantara.
Pelayaran dan perdagangan tersebut beriringan dengan pertukaran antar budaya suku-suku bangsa Nusantara yang ada. Pertukaran antar budaya tersebut juga melibatkan bangsa-bangsa maritim besar dunia lainnya, seperti Arab, Persia, India, Cina dan Eropa.
Sejarah juga telah menunjukan bahwa usaha merajut kebudayaan nusantara tersebut telah dimulai sejak lama, yaitu sejak zaman kuno peradaban nusantara yang diwakili oleh Sriwijaya dan Majapahit. Dua entitas peradaban kuno tersebut menggunakan maritim sebagai media politik sekaligus media kebudayaan.
Kebudayaan maritim adalah kebudayaan terbuka dan dinamis dalam interaksinya dengan yang global tanpa menghilangkan yang primodial. Jadi, generalisasi tentang kebudayaan Indonesia adalah umum dan statis nampaknya perlu kita kaji ulang.
Arus Balik
Melalui penanya, Pramoedya Ananta Toer telah mengungkap rahasia kemunduran kebudayaan nusantara melalui novelnya berjudul arus balik. Arus balik telah mengupas makna sejarah tentang kemunduran kebudayaan nusantara kita, yaitu sejak kebudayaan martitim mulai ditinggalkan di masa keruntuhan Majapahit itu.
Keruntuhan Majapahit seiring dengan munculnya Mataram sebagai entitas kebudayaan pedalaman. Mataram mengubah pilar-pilar maritim dengan membatasi kota-kota dagang pesisir dan memindahkan pusat lebih ke dalam. Arus balik ini membuka kekuatan baru Eropa muncul di Nusantara dan mengubah Indonesia tiga abad setelahnya.
Kebudayaan pedalaman menuntut kesatuan total, feudal, dan statis, mirip seperti penafsiran tunggal atas teks. Dalam konteks ini, semua segi kehidupan mesti dipersembahkan untuk sesuatu yang tunggal itu. Harmoni yang bernafas otoriter tersebut memaksa keberagamaan dalam ketunggalan, dan yang minoritas (lyan) menjadi semacam kusta untuk kemudian dimusnahkan.
Cara pandang berbudaya ini bukan hanya semata-mata milik peradaban kuno Nusantara, namun juga hadir dalam era modern. Cara pandang ketunggalan budaya sebagai ciri kebudayaan pedalaman kemudian dilegitimasi oleh arus pemikiran modernisme.
Modernisme adalah cara pandang yang linear tentang keterbelakangan dan kemajuan kebudayaan. Modernisme membuat batas antara masyarakat modern yang beradab dengan masyarakat purba dengan memberikan mitos-mitos tentang keterlambatan evolusi sosial, barbar dan pantas dibimbing. Modernisme sempit ini telah meligitimasi kolonialisme dan totalitarianisme pasca kolonial.
Lihat saja, bagaimana rezim orde baru dengan pemaknaan totalitarian terhadap Pancasila telah menyingkirkan demokrasi dan mempersempit makna pluralisme kebudayaan nusantara sebatas ancaman separatisme. Kebudayaan Indonesia oleh orde baru dimaknai sebagai kebudayaan yang tunggal dan statis.
Pancasila dan Menemukan Kembali Nusantara
Sungguh tepat, mantera bineka tunggal ika dalam genggaman erat Garuda itu. Bineka tunggal ika adalah perenungan tentang makna sejarah kebudayaan kita, sekaligus visi Indonesia ke depan. Bineka Tunggal Ika bersama dengan Pancasila adalah karya kebudayaan pendiri-pendiri bangsa.
Makna ketunggalan kebudayaan orde baru dengan menggunakan Pancasila secara sempit adalah ahistoris. Sejatinya, visi Pancasila adalah historis yang bertumpu pada keberagaman budaya nusantara. Dalam konteks ini, Pancasila jelas mengembalikan kembali kebudayaan maritim kita sebagai kebudayaan Indonesia yang terbuka dan dinamis.
Bangsa Indonesia dengan pantai terpanjang kedua setelah Kanada ini tentunya bangsa yang mau belajar dari sejarah. Bangsa ini tentunya enggan kembali terperosok pada palung otoritarian yang sama dalam politik maupun dalam berkebudayaan.
Sudah saatnya, kita melihat kembali dengan seksama Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Timor melalui mata dan pikiran terbuka. Melihat Indonesia secara terbuka adalah untuk meninggalkan ilusi tentang ketunggalan budaya yang muncul kembali akhir-akhir ini dalam narasi etnis, agama maupun golongan.
 
 
Sumber:
Qureta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar