| Qureta.com |
Seruan pilu Jean Paul Sartre kini mewujud dan meluas. Penolakan terhadap Tuhan yang meneror di masa kanak-kanak, Ilah pendendam sekaligus pengancam hukuman abadi berusaha dihilangkan. Demi kemerdekaan kita-–katanya—dan peniadaan kungkungan.
Uniknya banyak dari kita seolah mengiyakan Sartre dan menyokong Nietzsche yang tidak gentar dengan ‘kematian’ Tuhan. Sejak kebebasan berpikir digalakkan dan kehendak bebas digembar-gemborkan yang mistik kini mulai tersingkir.
Tatkala Albert Camus menyuarakan atesime heroik, ateisme mulai berubah wajah. Dari yang menyuarakan gagasannya dengan tak lantang menjadi penolakan pada yang transenden secara ‘membabi buta’. Tak heran, para ateis kini justru mendapat jam tayangan khusus di negara sebebas Amerika Serikat. Memunculkan tokoh sekelas Richard Dawkins, Lawrence Krauss, Stephen Hawking dan beberapa yang lain.
Ujung-ujungnya yang kita dengar hanya menyoal aggapan bahwa keyakinan keagamaan adalah bentuk ketidakdewasaan yang harus dibunuh oleh sains. Ateisme mungkin adalah konsekuensi dari rangkaian pertentangan yang mistik dengan yang –katanya—ilmiah. Sebuah imbas pasti dari kondisi kemanusiaan yang sulit bisa terhapus di era ilmiah dimana bukti meyakinkan dan iman diarahkan ke sisi meragukan.
Haruskah kita menengok saja ke masa lalu ketika masa depan keberagamaan seolah suram di depan mata?
Pertanyaan ini bukan hanya pertanyaan retoris sekedar memantik minat membaca. Ada pesan tersirat yang seolah tertanam jauh ke dalam. Adalah Karen Armstrong yang mengajukan sederet pertanyaan dalam buku fenomenalnya, Sejarah Tuhan. Pertanyaan di atas adalah salah satunya.
Meskipun kita harus meragui Karen Armstrong, setidaknya memandang keadaan keberagamaan sebagian kita kini, seolah mengiyakan relevan tidaknya pertanyaan di atas. Di paragraf berikutnya, ia sendiri menjawab dengan nada yang pesimis bahwa beberapa orang coba mencari jalinan pandangan para penganut terdahulu dengan kondisi kekinian.
Mencari inspirasi agar gagasan tentang Tuhan tak hanya terwujud dangkal dalam ritus yang kehilangan makna transenden kehadiran Ilah. Sayangnya keinginan baik itu tetap saja tak menjangkau banyak penganut.
Semenjak kepala dibuai dengan pemakluman penghujatan atas kelompok yang berseberangan, makin mangkraklah moral sebagian dari kita. Agama seolah kehilangan daya mengontrol mulut para manusia –yang mengaku—terkhusus staf ahli Tuhan keblinger. Tak terbendung, ujaran kebencian, prakonsepsi tak jelas berseliweran. Dampaknya sekarang lihatlah. Semakin partikularlah pemahaman sebagian dari kita, tidak mewujud lagi dalam laku sosial dan toleransi.
Serangan pemikiran ala para positivis dan filosof ekstensialis makin menghunjam, yang pada gilirannya membuat banyak para akademisi mendaku sebagai ateis. Dari arah yang pasti di sisi seberang, fundamentalisme dan agama yang dipahami hanya sekedar ritus mengarahkan pada penafsiran kitab secara harfiah. Dan sederet tetanda yang dikerahkan untuk tujuan komersialisasi menyerang dari arah yang berlawanan.
Kini pantaslah kemudian, Karen Armstrong dalam buku sejarah Tuhan mempertanyakan dalam bab-nya yang ke sebelas. “Adakah masa depan bagi Tuhan?” Lebih tepatnya, adakah masa depan bagi penganut agama damai yang terberkati Tuhan?
Sepertinya hampir jelas bayangan kita tentang jawaban ini. Tentu sulit tatkala sebagian dari kita asyik melabeli si ini kafir, si itu liberal, yang sana calon kuat penghuni Neraka, yang itu calon pasti yang disiksa di akhirat, menjadi sikap wajib sebagian dari kita. Lalu prasangka mengambil perannya.
Jika kita sejenak mampu keluar dari prasangka sebelum memahami beberapa buah pikiran baik dari yang terlabel tentulah kita bisa lebih bijak. Maka dengan coba menjadi manusia yang berpikir jernih, marilah kita belajar dari yang terlabel.
Adalah Max Horkheimer, seorang teoris sosialis dari mazhab Frankfurt. Jika kita terlanjur melabelinya di awal, maka gagasannya tentang ‘Tuhan’ sebagai cita-cita yang mampu mengantarkan menuju kerinduan akan keadilan tak akan pernah tersampaikan. Tapi tentu Tuhan yang ada di kepalanya mungkin saja akan berbeda dengan apa yang kita percaya.
Tak usah menyoalkan itu. Setamsil dengan Martin Heidegger yang memandang ‘Tuhan’ sebagai wujud yang sama sekali berbeda. Pandangannya semakin terang tatkala pada kuliah penobatannya di Freiburg ia mengatakan bahwa wujud dari ‘Tuhan’ “sama sekali berbeda”.Walaupun kembali perlu ditegaskan bahwa, Tuhan dalam perspektif Heidegger mungkin tak seperti apa yang kita percaya.
Namun gagasannya tentang wujud ‘Tuhan’ seolah meneguhkan apa yang kita percaya tentang terma paradoksial tak terpahami dan keterbatasan kemampuan kepala kita berpikir.
Jika sebagian kita melabeli si Heidegger sebagai bapak reduksionis Tuhan agama, maka beberapa buah pikirannya yang relevan tak akan mungkin kita cerap. Sama halnya tatkala menjelang akhir hayatnya ia seolah ingin menasehati kita lewat karya terakhirnya, “Hanya Tuhan yang bisa melindungi kita” tentang wujud-wujud yang menggantikan Wujud.
Lalu sejenak kita melompat ke Ernst Bloch. Seorang filosof Marxis. Ia memandang bahwa Tuhan adalah hal yang alami bagi kita, manusia. Meskipun Marxis menolak agama, Bloch seolah ingin menyampaikan bahwa dimana ada harapan di situ ada agama.
Walaupun Bloch sendiri menganggap Tuhan sebagai cita-cita manusia yang belum terwujud, ia sendiri tak mengembangkan konsep Tuhan menjadi begitu transenden dan tak terjangkau. Ia lebih senang mengatakan bahwa manusia tetap membutuhkan Tuhan.
Tak jauh beda dengan apa yang ada di kepala Albert Einstein. Si Yahudi eksentrik penerima hadiah nobel, bapak teori relativitas umum dan pencintai damai yang bukan fanatik agama. Einstein sangat mengapresiasi agama mistikal.
Bahkan suatu ketika tatkala terlibat perdebatan panjang tentang implikasi teori mekanika kuantum, ia pernah berujar bahwa “Tuhan tak bermain dadu”. Sebuah argumen yang sepertinya menghantam pandangan dunia probabilistik dan kehendak bebas. Juga menantang secara pasti konsep Tuhan yang tak punya kehendak mengatur realitas di semesta kita.
Mereka para yang terlabel mungkin tak sempurna, namun jika kita mampu memetik pelajaran dan membuat pengalaman keberagamaan kita menjadi matang, tentulah kita bisa sedikit lebih yakin. Bahwa masih ada masa depan Tuhan, dan masih ada kemungkinan konsepsi Tuhan yang berbeda di setiap kepala tetap terjaga dalam damai.
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar