| Banner Movie |
Di
Sela-sela waktu sambil
berbuka puasa, saya menonton film dari Martin
Scorsece berjudul "Silence”. Salah
satu hal yang membuat heran dalam film ini, saya
melihat bahwa Kristen bukan
tanpa perlawanan ketika disebarkan
dan disampaikan kepada orang lain tidak jauh berbeda dengan keadaan islam saat
masa awal disebarkan kepada orang arab. Silence memang
tidak mengajak kita untuk merasa kasihan kepada Padre Rodriguez
maupun Padre Garrupe sebagai tokoh
misionaris yang membawa misi untuk menyebarkan agama kristen dalam film ini,
melainkan mengajak kita untuk bisa memahami
dan mengerti bahwa merubah pola pikir manusia tidak
semudah membalikkan mie rebus yang hampir matang (ow apa tidak perlu untuk dibalik
mungkin, hehehe)
Film
ini berkisah tentang
perjalanan dua orang imam umat khatolik yang datang ke Jepang di era Tokugawa, dimana
saat itu umat Kristen melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi karena ada
pelarangan terhadap pengikut agama Kristen.
Father
Ferreira adalah seorang imam Kristen yang sudah lebih dulu berangkat ke
jepang sebagai misionaris. Namun terdengar indikasi bahwa Father
Ferreirra telah murtad dari ajaran Jesuit Kristen karena berbagai tekanan yang dialami selama misi di jepang. Ferreirra adalah orang
yang ingin dicari oleh padre Rodriguez dan padre Garrupe selain juga mengemban misi yang sama sebagai seorang
misionaris.
Film
ini sejenak mengajak
kita untuk merasakan bagaimana pahitnya jika kita harus murtad (red. Keluar dari keyakinan)
dan juga harus menerima kenyataan
bahwa kondisi yang kini hadapi begitu pahit
untuk dijalani. Begitulah mungkin yang dirasakan
Andrew Garfirld (pemeran Padre Rodriguez)
ketika melihat rekan dalam misi
menyebarkan agama Kristen di jepang mati kurus kering dan terpaksa tenggelam
demi menyelamatkan umat. Bahkan harus
mengorbankan keyakinan seperti yang dialami oleh Father
Ferreirra.
Sajian
yang begitu dramatis dalam menggambarkan sebuah perjuangan yang begitu keras.
Ada sebuah pertanyaan dalam hati setelah menonton Film ini, berapa
harga dari kemurtadan itu?. Kenapa harus
Murtad? dalam hati,
kapan si B murtad, kapan Si R murtad?. Karena toh meskipun Murtad selalu
identik dengan embel-embel agama tapi bisa saja kemurtadan yang dimaksud adalah pola
fikir. Toh juga memang kita diberi kesempatan untuk berubah-berubah
dalam berfikir sampai ajal menjemput.
KLISE
SINETRON ISLAMI DI BULAN
PUASA
Saya masih ingat di Ramadhan tahun lalu di sebuah
stasiun televisi swasta ada sinetron yang menceritakan tentang sejarah para
Walisongo untuk menyebarkan agama Islam. Tahun ini sinetron tersebut tidak
ditayangkan ulang. Saya jadi kangen dengan
tontonan yang lebih banyak memberi pesan dari pada jadi ajang lebay.
Jadi saya pilih untuk menonton film Silence walaupun pada
akhirnya saya harus merasa
kasihan terhadap upaya kristenisasi yang dilakukan oleh para padre di film
SILENCE. Bagaimana tidak, Padre Rodriguez, Padre Garupe dan
Padre Ferreira serasa tidak berkutik terhadap kekuasan Gubernur Inoue sama di
dalam film, berbeda dengan para Walisongo di pulau Jawa dengan kuat mampu
mengeluarkan ajian Panca Sona, Sayepi Angin, Ngelipet Bumi
dan ajian lainnya, hingga tidak perlu murtad seperti para padre
tadi. Bahkan disaat yang paling tidak mungkin sekalipun,
para wali tetap mendapatkan pertolongan dari Ikan Talang, Ikan Cucuf, Ikan Lele
dan Ikan Paus (kayak kisah nabi Yunus ya). Tapi itulah kenyataan
sejarah Islamisasi Jawa yang begitu heroik seperti fim-film Marvel dan DC
Comic.
Nampaknya memang para seminari itu harus belajar cara menyebarkan
agama
di Jawa, itupun kalau mereka kuat untuk poso muteh atau poso pati
geni. saya sendiri mengajak bagi yang ingin menonton fim Silence untuk sesegera
mungkin mengecas leptopnya, biar g abis amunisi di jalan. Over all film ini agar kita
lebih mengerti bahwa perjuangan harus tetap dijaga sampai mati.

Great blog here! Also your site loads up fast! What web host are you using? Can I get your affiliate link to your host? I wish my web site loaded up as quickly as yours lol gmail log in
BalasHapus