Apakah anda pernah membaca mengenai Gajah Mada yang ternyata bernama asli Gaj Ahmada?
Apakah anda juga tahu kalau ternyata Gajah Mada adalah seorang muslim?
Jika iya, berarti anda juga termasuk orang-orang yang tempo hari baca dan share oleh teman atau saudara anda lewat sosial media mengenai pemberitaan ini. Bisa jadi, anda mulai risih, atau kemudian mempertanyakan apakah iya informasi tersebut adalah benar. Sejatinya informasi tadi adalah sebuah penelitian dari riset Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku dengan judul "Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi".
Saya ingin menyampaikan bahwa sejarah di Indonesia terbaru sejatinya kurang terdistribusi dengan baik. Hal ini bisa dilihat sendiri oleh pemirsa jika anda berniat mengunjungi beberapa toko buku terdekat, disitu anda akan menemukan berbagai macam versi mulai dari versi pemerintah, kelompok masyarakat, ulama bahkan pribadi-pribadi yang bahkan tidak memiliki konpetensi di bidang sejarah, isi-isi dari beberapa buku tersebut bukan hanya melengkapi pengetahuan sejarah anda tapi juga ada yang bahkan merontokkan pengetahuan kesejarahan anda yang dulunya diajarkan di Sekolah Dasar. Ruwetnya ilmu sejarah ini senyatanya dibuat sendiri oleh orang-orang Indonesia, sejak Seminar Sejarah Nasional I pada tanggal 14 sampai dengan 18 Desember 1957 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, profesor Kuntowidjoyo pada waktu itu menginkan sejarah Indonesia untuk ditulis oleh sudut pandang orang Indonesia dan bukan Nederlands sentries yang pada masa itu menjadi ciri-ciri sejarah Indonesia.
Saya akan mempermudah agar anda semua faham. Jadi begini, sejarah dulunya banyak dibuat oleh orang belanda, lalu muncul inisiatif supaya sejarah indonesia ditulis oleh orang indonesia sendiri, sehingga memunculkan seorang maha patih yang bernama Gaj ahmada yang tentu saja unversitas di yogyakarta tadi juga akan berubah, mungkin jadi UGA (universitas Gaj Ahmada) atau UHGA (Universitas Haji Gaj Ahmada) karena siapa tahu, mungkin Gaj Ahmada tadi sudah pernah berhaji!.
Di kalangan mahasiswa sejarah muncul kronik klasik (ini dikarenakan penulis adalah mahasiswa sejarah), yakni adanya benturan antara pengetahuan sejarah lokal (yang kebanyakan berisi mitos dan kepercayaan akan babad) dengan metode penelitian sejarah yang condong kebarat, dimana tidak mungkin diketemukan adanya kesaktian-kesaktian yang diluar batas logika, contoh kesaktian yang saya maksud adalah ilmu mukso (semedi untuk mencapai puncak keabadian) yang dilakukan oleh orang-orang penting di tanah ini, sebut saja salah satunya Gaj Ahmada tadi. Terbenturnya hal yang kronis yakni metode sejarah tadi, menimbulkan beberapa buku yang di cap sangat sejarahwi, dua contoh yang bisa saya sebutkan disini adalah buku ATLAS WALISONGO yang ditulis oleh Agus Sunyoto dan buku API SEJARAH yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara.
Kedua buku tadi dalam isinya mendobrak berbagai informasi dari buku-buku sejarah yang tertulis di sekolah dasar sampai sekolah menengah akhir. Menurut pengakuan pak Agus Sunyoto waktu menghadiri sebuah seminar di Gedung Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, beliau menggunakan metode penelitiannya sendiri karena menganggap banyak fakta-fakta sejarah yang sengaja dikaburkan (diselewengkan) oleh pemerintah kolonial pada waktu itu. Buku Atlat Walisongo sendiri dibuat untuk meluruskan sejarah para pendakwah Islam, setali tiga uang, Ahmad Mansur Suryanegara juga menulis dalam bukunya bahwa banyak sekali data-data sejarah asli (menurut beliau) yang tidak disampaikan oleh masyarakat yang mengenyam pendidikan bahwa negara Indonesia senyatanya didirikan atas dasar agama Islam dan banyak orang-orang muslim yang di kucilkan dari sejarah versi pemerintah. Sementara 2 tokoh yang saya sebutkan menggunakan pendekatan dan metode sejarah versi mereka sendiri, para mahasiswa justru diharuskan menggunakan metode penelitian dari diktat-diktat barat atau oleh pendidik yang kompeten terhadap sejarah, catatan kecil juga bahwa profersor Bambang Purwanto dari Universitas Gadjah Mada mengganggap kedua buku tersebut masuk dalam golongan Novel sejarah dan bukan buku sejarah.
Apa itu novel sejarah dan buku sejarah, sejatinya adalah bisa ditilik dari pengartian dalam kata tersebut, yang berarti novel sejarah masih mengandung unsur imaji sedangkan buku sejarah berisi data-data dengan analisi logis, saya sendiri cenderung mengatakan buku sejarah adalah sejarah murni. Tapi kalau anda mengatakan bahwa buku sejarah senyatanya telah terdistribusi luas, anda pasti melupakan kalimat di awal tulisan saya, yups, senyatanya masih banyak orang menshare dan membuat tulisan di internet mengenai Gaj Ahmada tadi, maka sudah sangat jelas kalau informasi dalam buku sejarah murni tidak mampu terdisbusikan dengan baik sehingga yang muncul dalam pengetahuan masyarakat adalah novel-novel sejarah tadi. Garis besar saya adalah kemanakah para mahasiswa sejarah kita dalam hal ini ?
Kita acap kali lupa bahwa Indonesia telah memiliki semangat zaman yang baru, yaitu zaman internet, dimana orang-orang dituntut cepat dan bukan hanya cepat tapi juga inovatif memberikan informasi. Kita bisa melihat bahwa wawasan kesejarahan dan upaya dalam menyampaikan sebuah narasi sejarah telah banyak diambil alih oleh pemuka agama di situs youtube, lalu kemana mahasiswa?.
Setulusnya mereka kini diambang bimbang, karena dilain sisi banyak juga ternyata tempat-tempat sejarah yang kini berubah menjadi komoditi pariwisata seperti halnya makam, istana maupun candi-candi, lalu apakah juga banyak mahasiswa sejarah yang memiliki tempat berproses menyebarkan ilmunya di lokasi-lokasi yang saya sebutkan tadi, minim puan-puan dan tuan-tuan, minim sekali, paling-paling kami yang mahasiswa sejarah S1 harus menempuh sampai jenjang yang lebih tinggi untuk di tempatkan disana.
Miris, gak juga. Senyatanya masih ada cela demi menyebarkan informasi kesejarahan yang benar kepada masyarakat, para mahasiswa mesti mampu berinovasi, misalnya menyampaikan informasi sejarah melalui video, karena sejatinya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang paling suka menonton daripada membaca, apalagi membaca data serta metodologi sejarah yang bikin ngantuknya mengalahkan obat tidur.
Asal, saya sarankan bikin vidionya jangan anjai selevel iklan ice cream Nusantara, entar ya sama-sama aja, bakal ditertawain anak-anak SD. Sampaikanlah secara bagus dan indah, setidaknya tirulah bagaimana film Hollywood membuat sebuah film yang memilki latar belakang sejarah dibuat secara epic dan dengan research yang mendalam, contoh sepadan adalag film Martin Scorcece “SILENCE”. Susah, ya memang, tapi kalau digarap dengan serius senyatanya juga pasti bagus daripada box office Indonesia sekarang yang kalau membuat film berlatar belakang sejarah hanya mampu menampilkan film-film biotik dan dalam batasan tahun 1800 keatas. Saya berkeyakinan bahwa kita tidak mampu melogiskan data-data sejarah lama kita yang penuh dengan mitos dan ilmu-ilmu kedigdayaan (kekuatan diluar nalar logika), dan hal itu kemudian dipandang sebagai penghambat dan bukan sebagai khazanah informasi sehingga menambah bumbu-bumbu cerita yang bisa jadi, meskipun tidak menampilkan secara langsung-simbolistik-akan merubah film menjadi apik dan bakalan mengganti film-film lama Indonesia dulu yang juga masih penuh dengan kedigdayaan tadi, contoh film yang saya maksud semisal “SEMBILAN WALI” yang dibuat tahun 1985, disutradarai oleh Djun Saptohadi dan diperankan salah satunya oleh Guruh Soekarnoputra.
Sudah waktunya saya rasa bahwa mahasiswa sejarah mesti melakukan kiat-kiat kreatif agar jangan sampai dianggap kuliah kareana salah jurusan atau alasan-alasan klise lainnya, dan semestinya juga menggambil peran untuk berproses dan berkarya untuk menambah nilai kesejarahan kita.
Semoga berkenan.
Apakah anda juga tahu kalau ternyata Gajah Mada adalah seorang muslim?
Jika iya, berarti anda juga termasuk orang-orang yang tempo hari baca dan share oleh teman atau saudara anda lewat sosial media mengenai pemberitaan ini. Bisa jadi, anda mulai risih, atau kemudian mempertanyakan apakah iya informasi tersebut adalah benar. Sejatinya informasi tadi adalah sebuah penelitian dari riset Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku dengan judul "Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi".
Saya ingin menyampaikan bahwa sejarah di Indonesia terbaru sejatinya kurang terdistribusi dengan baik. Hal ini bisa dilihat sendiri oleh pemirsa jika anda berniat mengunjungi beberapa toko buku terdekat, disitu anda akan menemukan berbagai macam versi mulai dari versi pemerintah, kelompok masyarakat, ulama bahkan pribadi-pribadi yang bahkan tidak memiliki konpetensi di bidang sejarah, isi-isi dari beberapa buku tersebut bukan hanya melengkapi pengetahuan sejarah anda tapi juga ada yang bahkan merontokkan pengetahuan kesejarahan anda yang dulunya diajarkan di Sekolah Dasar. Ruwetnya ilmu sejarah ini senyatanya dibuat sendiri oleh orang-orang Indonesia, sejak Seminar Sejarah Nasional I pada tanggal 14 sampai dengan 18 Desember 1957 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, profesor Kuntowidjoyo pada waktu itu menginkan sejarah Indonesia untuk ditulis oleh sudut pandang orang Indonesia dan bukan Nederlands sentries yang pada masa itu menjadi ciri-ciri sejarah Indonesia.
Saya akan mempermudah agar anda semua faham. Jadi begini, sejarah dulunya banyak dibuat oleh orang belanda, lalu muncul inisiatif supaya sejarah indonesia ditulis oleh orang indonesia sendiri, sehingga memunculkan seorang maha patih yang bernama Gaj ahmada yang tentu saja unversitas di yogyakarta tadi juga akan berubah, mungkin jadi UGA (universitas Gaj Ahmada) atau UHGA (Universitas Haji Gaj Ahmada) karena siapa tahu, mungkin Gaj Ahmada tadi sudah pernah berhaji!.
Di kalangan mahasiswa sejarah muncul kronik klasik (ini dikarenakan penulis adalah mahasiswa sejarah), yakni adanya benturan antara pengetahuan sejarah lokal (yang kebanyakan berisi mitos dan kepercayaan akan babad) dengan metode penelitian sejarah yang condong kebarat, dimana tidak mungkin diketemukan adanya kesaktian-kesaktian yang diluar batas logika, contoh kesaktian yang saya maksud adalah ilmu mukso (semedi untuk mencapai puncak keabadian) yang dilakukan oleh orang-orang penting di tanah ini, sebut saja salah satunya Gaj Ahmada tadi. Terbenturnya hal yang kronis yakni metode sejarah tadi, menimbulkan beberapa buku yang di cap sangat sejarahwi, dua contoh yang bisa saya sebutkan disini adalah buku ATLAS WALISONGO yang ditulis oleh Agus Sunyoto dan buku API SEJARAH yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara.
Kedua buku tadi dalam isinya mendobrak berbagai informasi dari buku-buku sejarah yang tertulis di sekolah dasar sampai sekolah menengah akhir. Menurut pengakuan pak Agus Sunyoto waktu menghadiri sebuah seminar di Gedung Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, beliau menggunakan metode penelitiannya sendiri karena menganggap banyak fakta-fakta sejarah yang sengaja dikaburkan (diselewengkan) oleh pemerintah kolonial pada waktu itu. Buku Atlat Walisongo sendiri dibuat untuk meluruskan sejarah para pendakwah Islam, setali tiga uang, Ahmad Mansur Suryanegara juga menulis dalam bukunya bahwa banyak sekali data-data sejarah asli (menurut beliau) yang tidak disampaikan oleh masyarakat yang mengenyam pendidikan bahwa negara Indonesia senyatanya didirikan atas dasar agama Islam dan banyak orang-orang muslim yang di kucilkan dari sejarah versi pemerintah. Sementara 2 tokoh yang saya sebutkan menggunakan pendekatan dan metode sejarah versi mereka sendiri, para mahasiswa justru diharuskan menggunakan metode penelitian dari diktat-diktat barat atau oleh pendidik yang kompeten terhadap sejarah, catatan kecil juga bahwa profersor Bambang Purwanto dari Universitas Gadjah Mada mengganggap kedua buku tersebut masuk dalam golongan Novel sejarah dan bukan buku sejarah.
Apa itu novel sejarah dan buku sejarah, sejatinya adalah bisa ditilik dari pengartian dalam kata tersebut, yang berarti novel sejarah masih mengandung unsur imaji sedangkan buku sejarah berisi data-data dengan analisi logis, saya sendiri cenderung mengatakan buku sejarah adalah sejarah murni. Tapi kalau anda mengatakan bahwa buku sejarah senyatanya telah terdistribusi luas, anda pasti melupakan kalimat di awal tulisan saya, yups, senyatanya masih banyak orang menshare dan membuat tulisan di internet mengenai Gaj Ahmada tadi, maka sudah sangat jelas kalau informasi dalam buku sejarah murni tidak mampu terdisbusikan dengan baik sehingga yang muncul dalam pengetahuan masyarakat adalah novel-novel sejarah tadi. Garis besar saya adalah kemanakah para mahasiswa sejarah kita dalam hal ini ?
Kita acap kali lupa bahwa Indonesia telah memiliki semangat zaman yang baru, yaitu zaman internet, dimana orang-orang dituntut cepat dan bukan hanya cepat tapi juga inovatif memberikan informasi. Kita bisa melihat bahwa wawasan kesejarahan dan upaya dalam menyampaikan sebuah narasi sejarah telah banyak diambil alih oleh pemuka agama di situs youtube, lalu kemana mahasiswa?.
Setulusnya mereka kini diambang bimbang, karena dilain sisi banyak juga ternyata tempat-tempat sejarah yang kini berubah menjadi komoditi pariwisata seperti halnya makam, istana maupun candi-candi, lalu apakah juga banyak mahasiswa sejarah yang memiliki tempat berproses menyebarkan ilmunya di lokasi-lokasi yang saya sebutkan tadi, minim puan-puan dan tuan-tuan, minim sekali, paling-paling kami yang mahasiswa sejarah S1 harus menempuh sampai jenjang yang lebih tinggi untuk di tempatkan disana.
Miris, gak juga. Senyatanya masih ada cela demi menyebarkan informasi kesejarahan yang benar kepada masyarakat, para mahasiswa mesti mampu berinovasi, misalnya menyampaikan informasi sejarah melalui video, karena sejatinya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang paling suka menonton daripada membaca, apalagi membaca data serta metodologi sejarah yang bikin ngantuknya mengalahkan obat tidur.
Asal, saya sarankan bikin vidionya jangan anjai selevel iklan ice cream Nusantara, entar ya sama-sama aja, bakal ditertawain anak-anak SD. Sampaikanlah secara bagus dan indah, setidaknya tirulah bagaimana film Hollywood membuat sebuah film yang memilki latar belakang sejarah dibuat secara epic dan dengan research yang mendalam, contoh sepadan adalag film Martin Scorcece “SILENCE”. Susah, ya memang, tapi kalau digarap dengan serius senyatanya juga pasti bagus daripada box office Indonesia sekarang yang kalau membuat film berlatar belakang sejarah hanya mampu menampilkan film-film biotik dan dalam batasan tahun 1800 keatas. Saya berkeyakinan bahwa kita tidak mampu melogiskan data-data sejarah lama kita yang penuh dengan mitos dan ilmu-ilmu kedigdayaan (kekuatan diluar nalar logika), dan hal itu kemudian dipandang sebagai penghambat dan bukan sebagai khazanah informasi sehingga menambah bumbu-bumbu cerita yang bisa jadi, meskipun tidak menampilkan secara langsung-simbolistik-akan merubah film menjadi apik dan bakalan mengganti film-film lama Indonesia dulu yang juga masih penuh dengan kedigdayaan tadi, contoh film yang saya maksud semisal “SEMBILAN WALI” yang dibuat tahun 1985, disutradarai oleh Djun Saptohadi dan diperankan salah satunya oleh Guruh Soekarnoputra.
Sudah waktunya saya rasa bahwa mahasiswa sejarah mesti melakukan kiat-kiat kreatif agar jangan sampai dianggap kuliah kareana salah jurusan atau alasan-alasan klise lainnya, dan semestinya juga menggambil peran untuk berproses dan berkarya untuk menambah nilai kesejarahan kita.
Semoga berkenan.
