Islam yang Dibonsai
|
| http://hapsarian.blogspot.co.id |
Pernahkah anda semua berpikir mengapa ada banyak sekali jalan di
dalam Islam? Begitu beragamnya aliran dan mazhab yang masing-masing
mempunyai fondasi dan dasar-dasarnya sendiri dalam memahami dan
menjalankan cara hidup Islaminya. Masing-masing golongan punya pandangan
kuat dan bersikukuh pada ajarannya.
Terkadang perbedaan seperti itu selalu menciptakan perdebatan hingga menimbulkan kebencian satu sama lain dan bahkan menebarkan peperangan di antara sesama umat Muslim. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, Islam yang seperti apakah yang sesungguhnya diajarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W? Mengapa bisa timbul banyak sekali golongan dan aliran di dalam agama Islam itu sendiri?
Pada awalnya, Nabi Muhammad S.A.W. menyebarkan Islam sebagai alat untuk menemukan keTuhanan dalam kehidupan. Islam adalah prinsip sekaligus cara hidup. Setelah manusia menemukan ketuhanan di dalam dirinya dengan mengasah diri lewat jalan Islam, maka manusia tersebut akan kembali ke dunia dan menjadi wakil Tuhan di muka bumi untuk menyebar kebaikan-Nya, memakmurkan bumi dan bermanfaat bagi sesama makhluk dan alam semesta.
Nabi Muhammad pandai membaca hati manusia. Itulah sebabnya Nabi mengajarkan Islam dengan cara yang berbeda kepada setiap individu sesuai dengan karakter, sifat, hati dan kemampuan dari setiap individu masing-masing. Tetapi tujuan dan intinya tetap sama, yaitu ajaran tauhid. Itulah mengapa ajaran Islam bisa sangat bervarisi. Walau berbeda cara tetapi tujuan dan intisari tauhidnya tetap saja sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, Islam masih berjalan murni apa adanya walaupun di kalangan umat Muslim dan para sahabat Nabi di masa itu telah terdapat perbedaan cara pandang tentang Islam. Walaupun terdapat perbedaan tetapi mereka saling memahami, toleran dan berjalan berdampingan.
Hingga bencana pun tiba ketika sekelompok orang Yahudi menyebar fitnah di antara kaum Muslim yang dipicu masalah politik di masa kekhalifahan Ali. Hingga akhirnya Khalifah Ali pun terbunuh dan memecah umat Muslim menjadi dua golongan, yaitu Sunni dan Syi’ah. Inilah awal mula timbulnya perpecahan dan permusuhan di antara sesama umat Islam.
Di masa kesultanan Turki, terjadi perang salib. Pada saat itu, musuh Islam membuat suatu gerakan, yaitu Kelompok Kesatria Templar hingga Islam pun kalah dan hengkang dari Eropa. Banyak sekali ilmu-ilmu kedokteran, teknologi, filsafat dan lain-lain yang terdapat di perpustakaan-perpustakaan negeri Islam direbut dan dipelajari musuh Islam. Dan ilmu tersebut diambil alih oleh musuh untuk menyerang balik kaum Muslim.
Masyarakat Eropa berhasil mempelajari banyak teknologi dari kaum Muslim tapi tetap saja tabiat asli mereka tak pernah berubah. Dengan teknologi tersebut, bukannya memakmurkan bumi, malah timbul keserakahan untuk menjajah bangsa lain yang lebih lemah. Tidak henti-hentinya mereka memerangi negara-negara Asia, Afrika bahkan hingga ke Amerika.
Baru-baru ini, kaum penjajah yang digerakkan oleh sebagian besar Yahudi, mulai menemukan bahwa kedekatan kaum Muslim dengan Allah adalah suatu penghalang mereka untuk bisa menguasai kekayaan alam di negeri jajahannya. Timbul pemikiran cerdik dari mereka untuk menghancurkan Islam dari dalam. Sehingga tak perlu lagi ongkos perang yang besar.
Kaum Yahudi Inggris mulai menjajah tanah Hijaz (Arab Saudi) dengan cara baru. Dengan mengirim cendekiawan-cendekiawan Yahudi untuk mempelajari Islam hingga mendalam. Setelah itu, para cendekiawan tersebut pura-pura masuk Islam dan mengganti nama mereka dengan nama ke-Arab-an. Hingga mereka menjadi ulama di kalangan umat Islam. Setelah mereka diakui oleh umat Islam sebagai ulama, mulailah mereka mengotak-atik riwayat dan ajaran Islam sedemikian rupa.
Para cendekiawan Yahudi tersebut berhasil membonsai Islam dan menciptakan aliran Islam baru, yaitu Aliran Wahabi di Arab Saudi. Tujuannya tiada lain menjauhkan umat Islam dari kedekatan mereka terhadap Allah dengan cara membid’ahkan banyak hal yang baik. Mereka membunuhi keturunan-keturunan Nabi Muhammad dan menghancurkan pusaka-pusaka Nabi. Menghapuskan ibadah-ibadah ritual sunnah dan manjadikannya menjadi terlihat bid’ah, kufarat dan sesat.
Cendekiawan Yahudi Inggris tersebut bekerja sama dengan keluarga Al Saud yang keturunan Yahudi juga untuk mendirikan kerajaan Arab Saudi di tanah Hijaz. Keluarga Al Saud dijanjikan kemakmuran oleh Inggris asalkan mengemban paham Wahabi dan menyebarkannya ke seluruh umat Muslim di dunia.
Untungnya, umat Islam di Indonesia tidak terlalu terkena imbasnya pada waktu itu walaupun tetap ada dampaknya. Beberapa cendekiawan Yahudi tersebut dikirim ke Aceh untuk menyebarluaskan paham Wahabi itu yang akhirnya menurunkan turunannya, yaitu akidah Salafiah.
Aliran Wahabi dan Salafi di Nusantara tiada hentinya mengkritik ibadah dan ritual umat Islam Nusantara yang mereka anggap tak ada tuntunan dan dalilnya. Hingga mereka tega mengkafirkan sesama kaum Muslim di Nusantara.
Dengan senjata dalil dan ulama mereka yang dicetak oleh Yahudi, mereka membid’ahkn tahlilan, zikir bersama, tawasul, doa kepada orang yang meningal, penggunaan biji tasbih, mengharamkan musik, melarang mengusap muka dan bersalaman setelah shalat, membid’ahkan doa qunut, dan menyamarkan pengucapan bismillahirrahmannirrahim di awal membaca ayat suci al Quran.
Sesungguhnya apa-apa yang disebut tadi di atas jikalau pun tidak dilakukan, tidak menjadi masalah. Karena itu hal-hal yang mendukung ibadah wajib saja. Tapi jika yang mendukung ibadah wajib itu dibid’ahkan, maka secara tidak langsung mengurangi kedekatan dengan Allah. Padahal jika kita menelaah kembali riwayat, banyak sekali riwayat palsu yang diciptakan Yahudi untuk mendukung propagandannya dan mereka menghapus beberapa riwayat penting.
Adapun riwayat yang tidak dihapuskan dan mendukung hal-hal tersebut dipelintir dan dibuat seolah-olah itu riwayat palsu. Misalkan riwayat tentang doa qunut dan khasiatnya yang diturunkan Jibril A.S ketika Nabi mengalami situasi genting, dibuat seolah itu riwayat palsu. Sungguh mengada-ada.
Bertawasul merupakan tindakan kita menghormati para ulama dan guru-guru kita yang telah tiada. Kalau bukan karena jasa mereka, mungkin kita masih dalam kegelapan dan tak mengenal cahaya Islam. Mendoakan orang tua, kakek nenek dan buyut kita pun merupakan sebuah bakti anak yang shalih.
Oleh karena itu apa salahnya menghormati jasa mereka dengan mengirimkan berkah Al Fatihah kepada mereka. Bersilaturahmi itu tidak hanya dengan orang yang hidup, tapi juga dengan orang yang sudah mendahului kita. Bukan bermaksud meminta ini dan itu, hanya sekadar rasa hormat.
Ada pula yang membid’ahkan Tahlilan. Memang di zaman sekarang tidak ada dalil Tahlilan. Namun Nabi mengajarkan, ketika seseorang meninggal, sesekali ruhnya mendatangi rumah keluarganya dan mengharapkan doa dari keluarga dan kerabatnya yang masih hidup. Dalam riwayat pun dikatakan, doa, surat Yasin dan zikir dari anak atau kerabat akan menenangkan, menerangi dan mendamaikan orang yang meninggal.
Di sisi lain, paham Wahabi dan Salafi melarang penggunaan biji tasbih. Disarankan hanya menggunakan ruas jari tangan saja yang sebanyak 33 itu. Ini bertujuan agar umat Islam tidak lagi bisa berdzikir sebanyak mungkin. Biji tasbih hanya alat saja, tapi dengan penggunaan biji tasbih, umat Islam bisa berzikir hingga ribuan dan puluhan ribu mengucap kalimat zikir.
Satu kalimat saja diucap, Allah akan mengirim banyak malaikat menjaganya, apalagi diucap hingga puluhan ribu? Bukan tidak mungkin orang tersebut bisa jadi sangat dekat dengan Allah, menjadi orang istimewa yang dianugerahi banyak keajaiban untuk mengubah dunia.
Belum lagi pengucapan bismillah yang disamarkan ketika membaca ayat suci, dengan beralasan kalimat bismillah tersebut takut tercampur dan dikira satu surat dengan ayat yang dibaca. Terlalu diada-adakan. Semua orang pun tahu kalau kalimat basmallah adalah doa mengawal dari setiap perbuatan. Apalagi perbuatan ini adalah membaca ayat suci Al Quran. Tentu pengucapan basmallah secara jelas sangat utama.
Yang lebih menggelikan lagi, mereka bilang tidak boleh bersalaman setelah shalat. Bukankah bersalaman dengan orang di sebelah kita justru menambah berkah dan silaturhami? Mereka beralasan takut mengganggu orang yang sedang berzikir atau bedoa. Tanpa diberitahu pun, kita bisa membaca situasi, mana orang yang sedang berzikir dan berdoa. Tentu jika kita berprasangka baik, maka kita akan mengutamakan bersalaman lalu melanjutkan zikir dan doa tanpa merasa terganggu.
Adapun mengusap wajah setelah shalat pun dianggap bid’ah. Kenapa harus bid’ah? Apakah berbaring setelah shalat juga harus dibid’ahkan? Mengusap wajah adalah tindakan alamiah ketika wajah kita habis bersujud mungkin terkena kotoran atau bakteri sehingga bagus untuk mengusap wajah.
Apalagi di daerah tanah berpasir seperti jazirah Arab. Setelah sujud mungkin banyak pasir menempel. Mengusap wajah setelah shalat pun merupakan barokah setelah tangan kita melakukan tahyat akhir dengan telunjuk kita. Lalu kita usap ke wajah.
Aliran Wahabi dan Salafi, mengharamkan musik dengan alasan yang tidak jelas. Hanya mengandalkan riwayat Nabi yang mengatakan tinggalkanlah hal yang sia-sia dan juga nyanyian. Nyanyian yang seperti apa dulu? Pada masa Nabi, Nyanyian itu berarti dugem. Menonton para penari perut benrnyanyi sambil menari dan mabuk-mabukan. Itulah yang dimaksud oleh Nabi, bukan musiknya yang haram.
Orang Yahudi sangat paham jika musik mencerdaskan manusia sepuluh kali lipat daripada orang yang tak pernah bermusik. Bahkan setiap atom, molekul, planet dan galaksi memancarkan getaran-getaran dengan frekuensi-frekuensi bernada pentatonis dan berirama berbunyi Hu (dialah Allah). Jika musik itu haram, maka alam semesta bisa runtuh. Karena alam semesta selalu benrnyanyi sembari berzikir. Allah itu suka keindahan.
Inilah yang dikehendaki oleh sebagian kaum Yahudi, walau tak semua orang Yahudi itu jahat. Propaganda mereka pada waktu itu adalah menghilangkan yang sunnah. Dan mereka sejauh ini hampir berhasil membasmi yang sunnah hingga umat Islam jadi lemah, bodoh dan mudah dijajah secara halus. Ke depannya meraka berencana menghapuskan yang wajib. Jadi tetaplah waspada dan jangan mau jadi produk orang Yahudi.
Orang Yahudi juga gemar menciptakan masyarakat yang selalu membesar-besarkan perbedaan. Padahal Nabi menyarankan untuk meninggalkan perdebatan karena hanya akan menimbulkan kedengkian. Yang disarankan oleh Nabi adalah diskusi. Karena Islam diperuntukan bagi orang yang berpikir, bukan orang yang menelan bulat-bulat dalil dan menjadi fanatik
Islam adalah cara hidup dan sebuah alat mencapai ketuhanan. Banyak orang yang sibuk memperdebatkan agama hingga lupa menggapai Tuhan.
Terkadang perbedaan seperti itu selalu menciptakan perdebatan hingga menimbulkan kebencian satu sama lain dan bahkan menebarkan peperangan di antara sesama umat Muslim. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, Islam yang seperti apakah yang sesungguhnya diajarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W? Mengapa bisa timbul banyak sekali golongan dan aliran di dalam agama Islam itu sendiri?
Pada awalnya, Nabi Muhammad S.A.W. menyebarkan Islam sebagai alat untuk menemukan keTuhanan dalam kehidupan. Islam adalah prinsip sekaligus cara hidup. Setelah manusia menemukan ketuhanan di dalam dirinya dengan mengasah diri lewat jalan Islam, maka manusia tersebut akan kembali ke dunia dan menjadi wakil Tuhan di muka bumi untuk menyebar kebaikan-Nya, memakmurkan bumi dan bermanfaat bagi sesama makhluk dan alam semesta.
Nabi Muhammad pandai membaca hati manusia. Itulah sebabnya Nabi mengajarkan Islam dengan cara yang berbeda kepada setiap individu sesuai dengan karakter, sifat, hati dan kemampuan dari setiap individu masing-masing. Tetapi tujuan dan intinya tetap sama, yaitu ajaran tauhid. Itulah mengapa ajaran Islam bisa sangat bervarisi. Walau berbeda cara tetapi tujuan dan intisari tauhidnya tetap saja sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, Islam masih berjalan murni apa adanya walaupun di kalangan umat Muslim dan para sahabat Nabi di masa itu telah terdapat perbedaan cara pandang tentang Islam. Walaupun terdapat perbedaan tetapi mereka saling memahami, toleran dan berjalan berdampingan.
Hingga bencana pun tiba ketika sekelompok orang Yahudi menyebar fitnah di antara kaum Muslim yang dipicu masalah politik di masa kekhalifahan Ali. Hingga akhirnya Khalifah Ali pun terbunuh dan memecah umat Muslim menjadi dua golongan, yaitu Sunni dan Syi’ah. Inilah awal mula timbulnya perpecahan dan permusuhan di antara sesama umat Islam.
Di masa kesultanan Turki, terjadi perang salib. Pada saat itu, musuh Islam membuat suatu gerakan, yaitu Kelompok Kesatria Templar hingga Islam pun kalah dan hengkang dari Eropa. Banyak sekali ilmu-ilmu kedokteran, teknologi, filsafat dan lain-lain yang terdapat di perpustakaan-perpustakaan negeri Islam direbut dan dipelajari musuh Islam. Dan ilmu tersebut diambil alih oleh musuh untuk menyerang balik kaum Muslim.
Masyarakat Eropa berhasil mempelajari banyak teknologi dari kaum Muslim tapi tetap saja tabiat asli mereka tak pernah berubah. Dengan teknologi tersebut, bukannya memakmurkan bumi, malah timbul keserakahan untuk menjajah bangsa lain yang lebih lemah. Tidak henti-hentinya mereka memerangi negara-negara Asia, Afrika bahkan hingga ke Amerika.
Baru-baru ini, kaum penjajah yang digerakkan oleh sebagian besar Yahudi, mulai menemukan bahwa kedekatan kaum Muslim dengan Allah adalah suatu penghalang mereka untuk bisa menguasai kekayaan alam di negeri jajahannya. Timbul pemikiran cerdik dari mereka untuk menghancurkan Islam dari dalam. Sehingga tak perlu lagi ongkos perang yang besar.
Kaum Yahudi Inggris mulai menjajah tanah Hijaz (Arab Saudi) dengan cara baru. Dengan mengirim cendekiawan-cendekiawan Yahudi untuk mempelajari Islam hingga mendalam. Setelah itu, para cendekiawan tersebut pura-pura masuk Islam dan mengganti nama mereka dengan nama ke-Arab-an. Hingga mereka menjadi ulama di kalangan umat Islam. Setelah mereka diakui oleh umat Islam sebagai ulama, mulailah mereka mengotak-atik riwayat dan ajaran Islam sedemikian rupa.
Para cendekiawan Yahudi tersebut berhasil membonsai Islam dan menciptakan aliran Islam baru, yaitu Aliran Wahabi di Arab Saudi. Tujuannya tiada lain menjauhkan umat Islam dari kedekatan mereka terhadap Allah dengan cara membid’ahkan banyak hal yang baik. Mereka membunuhi keturunan-keturunan Nabi Muhammad dan menghancurkan pusaka-pusaka Nabi. Menghapuskan ibadah-ibadah ritual sunnah dan manjadikannya menjadi terlihat bid’ah, kufarat dan sesat.
Cendekiawan Yahudi Inggris tersebut bekerja sama dengan keluarga Al Saud yang keturunan Yahudi juga untuk mendirikan kerajaan Arab Saudi di tanah Hijaz. Keluarga Al Saud dijanjikan kemakmuran oleh Inggris asalkan mengemban paham Wahabi dan menyebarkannya ke seluruh umat Muslim di dunia.
Untungnya, umat Islam di Indonesia tidak terlalu terkena imbasnya pada waktu itu walaupun tetap ada dampaknya. Beberapa cendekiawan Yahudi tersebut dikirim ke Aceh untuk menyebarluaskan paham Wahabi itu yang akhirnya menurunkan turunannya, yaitu akidah Salafiah.
Aliran Wahabi dan Salafi di Nusantara tiada hentinya mengkritik ibadah dan ritual umat Islam Nusantara yang mereka anggap tak ada tuntunan dan dalilnya. Hingga mereka tega mengkafirkan sesama kaum Muslim di Nusantara.
Dengan senjata dalil dan ulama mereka yang dicetak oleh Yahudi, mereka membid’ahkn tahlilan, zikir bersama, tawasul, doa kepada orang yang meningal, penggunaan biji tasbih, mengharamkan musik, melarang mengusap muka dan bersalaman setelah shalat, membid’ahkan doa qunut, dan menyamarkan pengucapan bismillahirrahmannirrahim di awal membaca ayat suci al Quran.
Sesungguhnya apa-apa yang disebut tadi di atas jikalau pun tidak dilakukan, tidak menjadi masalah. Karena itu hal-hal yang mendukung ibadah wajib saja. Tapi jika yang mendukung ibadah wajib itu dibid’ahkan, maka secara tidak langsung mengurangi kedekatan dengan Allah. Padahal jika kita menelaah kembali riwayat, banyak sekali riwayat palsu yang diciptakan Yahudi untuk mendukung propagandannya dan mereka menghapus beberapa riwayat penting.
Adapun riwayat yang tidak dihapuskan dan mendukung hal-hal tersebut dipelintir dan dibuat seolah-olah itu riwayat palsu. Misalkan riwayat tentang doa qunut dan khasiatnya yang diturunkan Jibril A.S ketika Nabi mengalami situasi genting, dibuat seolah itu riwayat palsu. Sungguh mengada-ada.
Bertawasul merupakan tindakan kita menghormati para ulama dan guru-guru kita yang telah tiada. Kalau bukan karena jasa mereka, mungkin kita masih dalam kegelapan dan tak mengenal cahaya Islam. Mendoakan orang tua, kakek nenek dan buyut kita pun merupakan sebuah bakti anak yang shalih.
Oleh karena itu apa salahnya menghormati jasa mereka dengan mengirimkan berkah Al Fatihah kepada mereka. Bersilaturahmi itu tidak hanya dengan orang yang hidup, tapi juga dengan orang yang sudah mendahului kita. Bukan bermaksud meminta ini dan itu, hanya sekadar rasa hormat.
Ada pula yang membid’ahkan Tahlilan. Memang di zaman sekarang tidak ada dalil Tahlilan. Namun Nabi mengajarkan, ketika seseorang meninggal, sesekali ruhnya mendatangi rumah keluarganya dan mengharapkan doa dari keluarga dan kerabatnya yang masih hidup. Dalam riwayat pun dikatakan, doa, surat Yasin dan zikir dari anak atau kerabat akan menenangkan, menerangi dan mendamaikan orang yang meninggal.
Di sisi lain, paham Wahabi dan Salafi melarang penggunaan biji tasbih. Disarankan hanya menggunakan ruas jari tangan saja yang sebanyak 33 itu. Ini bertujuan agar umat Islam tidak lagi bisa berdzikir sebanyak mungkin. Biji tasbih hanya alat saja, tapi dengan penggunaan biji tasbih, umat Islam bisa berzikir hingga ribuan dan puluhan ribu mengucap kalimat zikir.
Satu kalimat saja diucap, Allah akan mengirim banyak malaikat menjaganya, apalagi diucap hingga puluhan ribu? Bukan tidak mungkin orang tersebut bisa jadi sangat dekat dengan Allah, menjadi orang istimewa yang dianugerahi banyak keajaiban untuk mengubah dunia.
Belum lagi pengucapan bismillah yang disamarkan ketika membaca ayat suci, dengan beralasan kalimat bismillah tersebut takut tercampur dan dikira satu surat dengan ayat yang dibaca. Terlalu diada-adakan. Semua orang pun tahu kalau kalimat basmallah adalah doa mengawal dari setiap perbuatan. Apalagi perbuatan ini adalah membaca ayat suci Al Quran. Tentu pengucapan basmallah secara jelas sangat utama.
Yang lebih menggelikan lagi, mereka bilang tidak boleh bersalaman setelah shalat. Bukankah bersalaman dengan orang di sebelah kita justru menambah berkah dan silaturhami? Mereka beralasan takut mengganggu orang yang sedang berzikir atau bedoa. Tanpa diberitahu pun, kita bisa membaca situasi, mana orang yang sedang berzikir dan berdoa. Tentu jika kita berprasangka baik, maka kita akan mengutamakan bersalaman lalu melanjutkan zikir dan doa tanpa merasa terganggu.
Adapun mengusap wajah setelah shalat pun dianggap bid’ah. Kenapa harus bid’ah? Apakah berbaring setelah shalat juga harus dibid’ahkan? Mengusap wajah adalah tindakan alamiah ketika wajah kita habis bersujud mungkin terkena kotoran atau bakteri sehingga bagus untuk mengusap wajah.
Apalagi di daerah tanah berpasir seperti jazirah Arab. Setelah sujud mungkin banyak pasir menempel. Mengusap wajah setelah shalat pun merupakan barokah setelah tangan kita melakukan tahyat akhir dengan telunjuk kita. Lalu kita usap ke wajah.
Aliran Wahabi dan Salafi, mengharamkan musik dengan alasan yang tidak jelas. Hanya mengandalkan riwayat Nabi yang mengatakan tinggalkanlah hal yang sia-sia dan juga nyanyian. Nyanyian yang seperti apa dulu? Pada masa Nabi, Nyanyian itu berarti dugem. Menonton para penari perut benrnyanyi sambil menari dan mabuk-mabukan. Itulah yang dimaksud oleh Nabi, bukan musiknya yang haram.
Orang Yahudi sangat paham jika musik mencerdaskan manusia sepuluh kali lipat daripada orang yang tak pernah bermusik. Bahkan setiap atom, molekul, planet dan galaksi memancarkan getaran-getaran dengan frekuensi-frekuensi bernada pentatonis dan berirama berbunyi Hu (dialah Allah). Jika musik itu haram, maka alam semesta bisa runtuh. Karena alam semesta selalu benrnyanyi sembari berzikir. Allah itu suka keindahan.
Inilah yang dikehendaki oleh sebagian kaum Yahudi, walau tak semua orang Yahudi itu jahat. Propaganda mereka pada waktu itu adalah menghilangkan yang sunnah. Dan mereka sejauh ini hampir berhasil membasmi yang sunnah hingga umat Islam jadi lemah, bodoh dan mudah dijajah secara halus. Ke depannya meraka berencana menghapuskan yang wajib. Jadi tetaplah waspada dan jangan mau jadi produk orang Yahudi.
Orang Yahudi juga gemar menciptakan masyarakat yang selalu membesar-besarkan perbedaan. Padahal Nabi menyarankan untuk meninggalkan perdebatan karena hanya akan menimbulkan kedengkian. Yang disarankan oleh Nabi adalah diskusi. Karena Islam diperuntukan bagi orang yang berpikir, bukan orang yang menelan bulat-bulat dalil dan menjadi fanatik
Islam adalah cara hidup dan sebuah alat mencapai ketuhanan. Banyak orang yang sibuk memperdebatkan agama hingga lupa menggapai Tuhan.
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar